Merawat Cinta

Diposkan oleh Unknown


Apabila pilihan cinta sudah tepat, diperlukan adanya pemeliharaan. Cinta merupakan buah iman yang mengalami dinamika seiring dengan baik dan buruk perlakukan dalam hidup. Ibarat tanaman, cinta memerlukan siraman, pupuk, dan perawatan secara teratur. Cinta dapat redup atau meti bila tak dipelihara. Seseorang sering mengalami problem cinta dengan pasangannya, mulai dari merasa tidak dicintai atau tidak merasa ada timbal balik yang pantas.


John Gray dalam buku Men, Women, and Relationships menyarankan pada setiap pasangan untuk berpikir berlawanan dengan apa yang paling diinginkan agar merasa dicintai. Artinya, masing-masing individu harus mengenyampaikan keinginan serta ego diri dan tentunya, dalam Islam, tanpa melanggar syariat agama.

Stephen R. Covey dalam buku The 7 Habits of highly Effective Families mengatakan bahwa cinta itu ibarat rekening bank emosi yang menimbulkan saldo minimum agar tidak ditutup sehingga menimbulkan permusuhan, perceraian, atau perpisahan. Manajemen cinta mendahulukan setoran daripada penarikan dalam berbagai situasi. Yang dapat dilakukan adalah membuat cinta menjadi lebih baik. Rasulullah menyampaikan dalam sabdanya:

“Janganlah kau remehkan satu kebaikan meski hanya memberi senyuman pada saudaramu.”

Sikap mengesalkan dan menyebalkan janganlah dibiasakan, sebab itu berarti penarikan beruntun yang menguras rekening simpati sebagai modal saling mencintai hingga simpati sebagai modal saling mencintai hingga berakibat fatal. Namun saying, hal ini justru sering diremehkan.

Kita perlu sesering mungkin mengisi rekening emosi cinta dengan hal-hal positif, misalnya dengan melakukan apa yang dikemukakan Ibnu Qayyim dalam bukunya yang berjudul Raudhah al-Muhibbin. Usahakan sesering mungkin kontak mata yang penuh damai, mengingat kekasih, menghargai, memanggilnya secara baik, mengikuti keinginannya tanpa melanggar syariat, bersabar, menunjukkan perhatian, dan sebagainya. Skala prioritas cinta semestinya diimplementasikan agar tidak bertabrakan dan merusak hubungan. Dalam hidup, banyak hal yang memang secara fitrah kita cintai. Hal ini dapat berjalan baik apabila tidak terjadi salah paham dan kecemburuan tidak pada tempatnya.

Prioritas cinta yang pertama adalah cinta Allah dan Rasul-Nya, Islam, akidah, syariat, dan jihad di atas segalanya. Kemudian, cinta kepada orang tua bagi anak lelakinya dan bagi wanita yang belum menikah. Bagi wanita yang sudah menikah, prioritas cinta kepada suami lebih dahulu baru orang tua lalu kepada istri dan anak bagi lelaki, dan seterusnya.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Allah memberikan rahmat dengan memnukakan pintu gua yang tertutup bagi suami yang menyimpan susu untuk diminumkan kepada orang tuanya sebelum anak dan istrinya dan relan menahan diri dan keluarganya untuk meminumnya sebelum orang tuanya.

Hal yang tidak boleh dilupakan adalah situasi, kondisi, dan peran yang diamanatkan oleh Allah. Sebagai contoh, seorang tua yang tidak ada yang merawatnya kecuali dirinya. Maka, Rasulullah SAW. mewajibkan orang tersebut untuk merawat keluarganya dan melarangnya berjihad. Sebaliknya, jika potensi dan perannya dibutuhkan dalam jihad, sementara sudah ada elemen yang cintanya kepada Allah SWT. dan Rasul-Nya maka Allah SWT. mengancamnya dengan kemungkaran.

dikutib dari buku "KETIKA CINTA DALAM NAUNGAN ILAHI"

penerbit "garailmu"